Minggu, 05 Februari 2012

Kenapa Mahasiswa Harus Mentoring?

       Staff Div. Ke- LDK- an

Mahasiswa, tidak asing lagi bagi kita. Sosok yang diharapkan menjadi agen perubah, yang dibentuk untuk menjadi pemimpin masa depan, yang dipermak untuk bisa menaklukkan dunia. Mahasiswa, ya mereka lah para pemuda. Kesadaran akan peran besar yang diemban oleh para mahasiswa tentu angat dinantikan oleh masyarakat. Bagaimana jika para mahasiswa masih menganggap dirinya hanya sebagai pengguna tanpa memikirkan cara untuk bisa menjadi pencipta? Jika para mahasiswa masih menunggu untuk suatu keajaiban terkait masa depannya tanpa ada usaha? Tentu ini menjadi satu permasalahn yang perlu diberi perhatian khusus.

Mari melirik pada kondisi mahasiswa muslim saat ini. Tidak jarang dari mereka yang tidak paham akan eksistensi mereka di dunia kampus. Dengan kata lain, hanya sedikit yang menunjukkan keseriusan mereka dalam mengemban amanah yang cukup besar sebenarnya. Satu hal yang menjadi sorotan kita adalah bahawa masih banyaknya mahasiswa muslim yang belum menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Sangat jauh. Ini adalah satu permasalahan yang akan memicu merebaknya berbagai permasalahan lainnya di dunia kampus.

Berbagai tawuran, pengrusakan gedung perkuliahan, hingga keterlibatan mahasiswa dalam penggunaan obat2an terlarang dan seks bebas, adalah beberapa dampak negative yang lahir sebagai akibat dari minimnya pemahaman agama mereka. Jika hal ini terjadi siapa yang pantas disalahkan? Sungguh ironi jika para birokrasi menyalahkan mahasiswa sepenuhnya, memberi kecaman tegas kepada mereka tanpa menelisik apa penyebab di balik semua ini. Sungguh tidak wajar ketika menyalahkan mahasiswa  sementara di sudut lain mereka (para pengambil kebijakan) dengan seenaknya mengesampingkan pendidikan karakter yang sebenarnya buah dari pendidikan agama.

Degradasi moral terjadi seolah sebuah kesengajaan di negara ini. Bahkan mereka tampaknya bangga dengan kebijakan yang mereka buat di lingkungan kampus. Satu kebijakan fatal yang mereka buat adalah pelaksanaan mata kuliah agama pada semester 5 atau 6. Kita tidak tahu apa latar belakang pengambilan kebijakan ini, hanya berbaik sangka saja. Namun mari kita coba kritisi, efek negative kebijakan ini . Mahasiswa sudah terlalu disibukkan dengan tugas2 mata kuliah yang tidak memiliki kaitan apa2 dengan pemahaman agama mereka. Hingga sampai ke tingkat 3 mahasiswa diajak untuk mempelajari agama mereka kembali, dengan sedikit ‘kaku’. Esensinya sudah tidak terasa. Mahasiswa sudah terlanjur disibukkan dengan pikiran2 yang lain hingga mata kuliah agama hanya dirasakan sebagai formalitas saja.

Mungkin ini tidak begitu masalah bagi mereka yang mengikuti organisasi keislaman di kampus atau di sekitar tempat tinggal mereka. Namun bagi yang lain? Mereka yang berasal dari daerah yang notabene kental dengan nilai2 keagamaan namun tidak mendapatkannya di kampus. Apalagi yang memang pada dasarnya mereka yang tidak memperdalam agama di daerahnya. Apa yang akan terjadi dengan kondisi seperti ini?

Melihat realita ini, tentu kita tidak bisa berdiam diri. Audiensi dengan berbagai kalangan termasuk dosen agama serta birokrasi terkait adalah beberapa cara yang dilakukan oleh teman2 dari Lembaga Dakwah  Kampus (LDK). Salah satunya adalah kawan2 dari Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Ar- Rahman UNIMED yang merasa terpanggil untuk memperbaiki karakter mahasiswa muslim lewat pendidikan agama. Kegiatan yang mereka lakukan adalah Mentoring melalui Badan Semi Otonom UKMI, ICL (Islamic Character Learning). Di sini, mahasiswa muslim bisa belajar agama Islam gratis yang dibimbing oleh para kakak/ abang yang diseleksi dengan ketat. Output dari kegiatan ini adalah terbentuknya mahasiswa muslim yang ber- Islam dengan baik. Minimal solat lima waktu, baca Al Qur’an, dan berakhlak mulia (berkarakter). Ketiga poin ini akan mengajak diri mereka untuk selalu berbuat kebajikan dimana pun mereka berada. Penjagaan akan selalu dilakukan kepada para mentee (peserta) agar ibadah mereka tetap terlaksana.

Urgensi mentoring sangat dirasakan dalam pembentukan mahasiswa yang berkarakter. Tidak cukup hanya dengan menyisipkan pendidikan karakter lewat beberapa mata kuliah umum, namun perlu mata kuliah khusus. Untuk itu, mentoring harapannya bisa dijadikan sebagai kegiatan wajib bagi mahasiswa muslim minimal di semester awal. Kita tentu tidak ingin degradasi moral ini terus berlanjut sampai nanti menyisakan peneyesalan yang berkepanjangan.

Mahasiswa punya peranan besar dalam bidang apapun. Mahasiswa yang berkarakter adalah sosok yang akan mampu memainkan perannya dengan baik. Pendidikan karakter adalah buah dari pendidikan agama yang tidak dapat dipandang sebelah mata.  Mahasiswa berkarakter hanya akan lahir dari proses pembentukan yang benar dan berkelanjutan. Mentoring hadir sebagai satu solusi cerdas dalam membentuk mahasiswa berkarakter. Mentoring akan membawa mahasiswa pada pemahaman akan peran mereka sebagai agen perubah yang disertai dengan nilai2 keislaman. Semoga mentoring menjadi satu kegiatan rutin di setiap kampus tanah air yang dimonitori langsung oleh pihak birokrasi dan jajarannya. (05/02san)

Senin, 02 Januari 2012

Simposium FSLDK SUMUT lahirkan kader dakwah yang siap dalam kondisi apapun

oleh : http://setetesembunqothrunnada.blogspot.com/
Jalan dakwah bukan sebuah perjalanan yang ditaburi bunga atau dihampari permadani tapi jalan dakwah adalah jalan yang dipenuhi onak dan duri. Maka dibutuhkan semangat dan keistiqomahan untuk melangkah menuju kemengan dakwah ini, agar Sumatera Utara Madani segera terwujud. Keistiqomahan lahir dari sebuah pemahaman yang mendalam, kesamaan visi, kesatuan gerak, dan kemauan kuat untuk mengabdikan diri pada dakwah Islam.
            Simposium LDK Se- Sumatera Utara hadir dalam rangka gebrakan perbaikan bersama dengan tema  “AKSELERASI PERAN LEMBAGA DAKWAH KAMPUS DALAM REKONSTRUKSI KARAKTER INTELEKTUAL MUDA MENUJU SUMATERA UTARA MADANI”
            Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari (30-31 Desember 2011 – 1 Januari 2012) ini merupakan program kerja dari PUSKOMDA Sumut dimana panitia berasal dari 5 LDK di kota Medan; UKMI Ar- Rahman UNIMED, LDK Al- Izzah IAIN SU, UKMI Ad- Dakwah USU, UKMI An- Najwa POLMED, dan LDK R. Jannah UMN.
Simposium ini digelar di gelanggang H. Anif Universitas Negeri dengan rangkaian acara :
1.      Stadium General“Peran LDK dalam Membangun Karakter Intelektual Muda”
2.      Seminar Internalisasi Mentoring se- Sumatera Utara “Revitalisasi Peran LDK dalam    Pendidikan Karakter Pemuda”
3.      Pelatihan Manajemen Dakwah Kampus yang dibagi menjadi 3 kelas yaitu :
            a. Kaderisasi
            b. Syiar dan Fundrising
            c. Rapat Koordinasi Daerah (RAKORDA)
            Acara yang dihadiri oleh 300 peserta yang merupakan para aktifis dakwah kampus dari berbagai universitas di Sumatera Utara itu berlangsung hikmad. Para aktifis dakwah kampus itu berkumpul bersama dan menyatukan tekad untuk menegakkan islam dan menyebarkan fikroh keislaman di kampus masing-masing. Sebab itu para peserta sangat antusias untuk mendapatkan bekal ilmu pengetahuan di acara simposium ini.
            Takbir pun membahana membangkitkan semangat juang para kader dakwah untuk memaksimalkan peran LDK dalam merekonstruksi karakter intelektual muda dan memperbaiki moral bangsa.  Dengan semangat juang yang tinggi itulah kader dakwah  yang siap dalam kondisi apapun lahir dari simposium ini.
            Dalam rapat koordinasi daerah, ketua PUSKOMDA, Cholid Wijaya menyatakan bahwa LDK saat ini harus membangkitkan kepercayaan diri, hilangkan kebodohan, perkuat pemahaman dan fikroh, dan meningkatkan silaturrahim agar LDK tidak lagi menjadi organisasi yang terbelakang. Maka, membangun jaringan juga merupakan hal sangat penting untuk memajukan LDK di SUMUT.
            Dengan bekal pemahaman dan semangat juang yang dimiliki kader dakwah, koordinasi yang jelas antar LDK se-SUMUT, serta jaringan yang luas dengan masyarakat maka Sumatera Utara Madani akan segera terwujud.

Selasa, 27 Desember 2011

Lelah, Sebuah Mata Rantai

Staff Div. Ke- LDK- an Puskomda Sumut 2011- 2013
Lelah, Sebuah Mata Rantai. Setiap kita pasti pernah merasakan lelah. Apakah ia disebabkan aktivitas fisik yang cukup banyak dan sulit, atau mungkin saja aktivitas pikiran yang beranekaragam dan rumit. Kesemuanya akan akan membawa kita pada satu keadaan dimana kita butuh istirahat. Tidak terkecuali siapapun kita tentu butuh saat- saat untuk memulihkan kembali energi itu. Walau tak jarang masa- masa istirahat itu adalah masa yang paling rentan terjadinya sesuatu yang dikhawatirkan, berhenti.

Kelelahan adalah sunnah kauniyah; tabiat kehidupan. Sejak lahir kelelahan sudah menemani perjalanan hidup manusia. Allah berfirman:” Sungguh kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”(QS. Al Balad:4). Bayi yang baru lahir terus berusaha menghirup udara yang selama ini belum pernah sekalipun berhubungan dengannya. Begitupun pencernaan dan organ tubuh lainnya yang baru memulai fungsinya masing- masing. Tentu keadaan yang sangat berat. Kemudian berlanjut pada proses merangkak, berjalan, dan gerakan lainnya yang kesemuanya itu adalah kelelahan.

Tidak hanya manusia tentunya, demikian hewan. Burung yang harus bersusah payah terbang ke sana kemari untuk mendapatkan makanan. Ikan yang berenang di lautan dangkal. Lebah berpindah dari satu bunga ke bunga yang lain. Cacing yang berjuang keras untuk menembus tanah berliku- liku nan keras untuk mendapatkan makanan. Dan hewan lainnya. Kita mendapati ternyata kelelahan dibutuhkan untuk mencapai kesinambungan hidup. Satu kalimat yang mungkin bisa mewakili, ‘tetaplah menjadi kepompong jika takut lelah dan berkorban’.

Bagi seorang muslim, rasa lelah tidak semata hanya situasi yang tidak nyaman secara fisik maupun batin. Rasa itu mengantarkan kita pada kesadaran bahwa Allah lah yang Maha Sempurna. Sekuat apapun kita, ada masa istirahat yang kita butuhkan. Sehebat apapun kita, pasti tidak akan mampu menjangkau semua hal. Sepandai apapun kita, tentu tidak akan mampu menjangkau semua ilmu pengetahuan. Karena kita manusia, punya rasa lelah. Namun tidak dengan Allah. Jadi bersyukurlah ketika lelah menyapa, dan bawa ia pada kesadaran akan ke Maha Sempurnya Allah dan kehinaan diri kita di hadapan- Nya.

Rasa lelah akan hadir sesuai dengan jadwalnya. Ibnu Qayyim Al Jauzi berkata, “Orang- orang berakal dari seluruh umat sepakat bahwa nikmat itu tidak bisa dicari dengan cara yang nikmat. Dan barangsiapa yang bersantai- santai, justru akan kehilangan kenyamanan yang sesungguhnya. Sebab, seperti apa kadar kesulitan dan kelelahan, seperti itu pula kenyamanan yang akan didapatkan. Tak aka nada kesenangan bagi yang tidak punya kehendak kuat. Tak ada kesenangan bagi yang tak punya kesabaran. Tak ada karunia kenikmatan bagi yang tidak mau bersusah payah. Tak ada kebahagiaan bagi yang tak berlelah- lelah. Bahkan bila seorang Muslim mau berlelah sedikit, sesungguhnya ia berbalas dengan kelapangan yang panjang. Jika ia mau menahan beratnya sabar barang sesaat, ia akan diantarkan ke kehidupan yang lebih abadi. Semua jalan menuju kenikmatan, memerlukan saat- saat kesabaran. Dan hanya Allah tempat meminta pertolongan.”

Selanjutnya, dibawa kemana rasa lelah itu? Bawalah ia pada ketundukan kepada Allah. Sungguh kita akan menyadari betapa pentingnya Dia saat- saat sulit sseperti ini. Bila rasa lelah datang dan terus menekan diri kita, itulah saat yang sangat tepat untuk bermunajat kepada Allah.
Seringkali, sepanjang perjalanan hidup kita justru hanya bertahan untuk hidup hingga menyita hampir seluruh rasa lelah. Semangat untuk merencanakan, memulai, dan mengerjakan sesuatutiba- tiba sirna jika rasa ini hadir. Tak jarang banyak yang tidak mampu menjalani proses ini hingga mereka berguguran dan menyatakan berhenti tuk berusaha.

Seorang penyeru kebenaran hendaklah memahami bahwa dialah yang membutuhkan dakwah, bukan sebaliknya, Hingga futurnya seorang aktivis dakwah bisa jadi merupakan indikasi dari rendahnya pemahaman dan komitmen terhadap dakwah Islam. Maka amatlah penting bagi setiap kita untuk merenungkan ayat Allah, “Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti kamu dengan kaum yang lain ; dan mereka tidak akan seperti kamu.”(QS. Muhammad:38)

Lelah tidak masalah. Ia hanya sebuah siklus. Membawa kita menuju kesadara akan ke- Maha Sempura- an Rabb kita. Ia adalah tabiat kehidupan. Bahkan menjadi satu masalah jika kita tidak merasakan kelelahan. Pundak- pundak yang kuat untuk menjalankan berbagai amanah akan menghadirkan kelelahan yang berarti di hadapanNya. Kelelahan yang akan mengantarkan kita pada pemahaman yang benar, bahwa kelelahan berbanding lurus dengan keberhasilan. Sebab kelelahan adalah mata rantai yang tak terpisahkan dari sebuah kesenangan. Jika tak ingin lelah, tetaplah menjadi kepompong! (28/12san)



*Selamat berlelah ria kepada semua sahabat2 yang multi-amanah. Amazing!

Jumat, 16 Desember 2011

Simposium LDK Se- Sumatera Utara

"Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia celaka. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung." (HR. Bukhari)

Continuous Improvement!
Mungkin kata itulah yang mewakili setiap gerak langkah kita dalam hidup ini. Ya memang seyogyanya seperti itu. Begitupun dalam perjalanan dakwah ini. Dibutuhkan kepahaman, kesamaan visi, kesatuan gerak, dan kemauan kuat untuk selalu memperhatikan keberjalanan dakwah agar lebih baik.
Simposium LDK Se- Sumatera Utara hadir dalam rangka gebrakan perbaikan bersama. Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari ini merupakan program kerja dari PUSKOMDA Sumut dimana panitia berasal dari 5 LDK di kota Medan; UKMI Ar- Rahman UNIMED, LDK Al- Izzah IAIN SU, UKMI Ad- Dakwah USU, UKMI An- Najwa POLMED, dan LDK R. Jannah UMN. SimposiK kali ini mengangkat tema:
“AKSELERASI PERAN LEMBAGA DAKWAH KAMPUS DALAM REKONSTRUKSI KARAKTER INTELEKTUAL MUDA MENUJU SUMATERA UTARA MADANI”

Berikut rangkaian kegiatannya:

Jumát, 30 Desember 2011


08.00- 09.30 : Registrasi Peserta
09.30- 11.00 : Opening Ceremony
11.00- 11.45 : Stadium General
“Peran LDK dalam Membangun Karakter Intelektual Muda”
11.45- 14.00 : SHOMAI
14.00- 15.30 : Seminar Internalisasi Mentoring se- Sumatera Utara
“Revitalisasi Peran LDK dalam Pendidikan Karakter Pemuda”
15.30- 16.15 : ISHO
16.15- 17.30 : Penampilan Kebudayaan Sumatera Utara oleh 4 LDK
17.30- 20.30 : Persiapan pribadi dan SHOMAI
20.30- 22.30 : Forum Diskusi
22.30- 03.30 : Istirahat

Sabtu, 31 Desember 2011

03.30- 06.30 : Qiyamullail, Sholat Subuh, Tilawah, Kultum
06.30- 07.00 : Riyadhoh
07.00- 08.30 : Persiapan pribadi dan Sholat Dhuha
08.30- 09.00 : Pengkondisian forum
09.00- 12.00 : PMDK
Kelas A: Kaderisasi, Kelas B: Syiar, Kelas C: Rakorda
12.00- 13.30 : SHOMAI
13.30- 15.30 : Lanjutan PMDK
15.30- 16.10 : ISHO
16.10- 16.30 : Ice Breaking
16.30- 17.45 : Launching BK Puskomda
17.45- 20.30 : Persiapan pribadi dan SHOMAI
20.30- 22.30 : Forum Diskusi
22.30- 03.30 : Istirahat

Ahad, 01 Januari 2012

03.30- 06.30 : Qiyamullail, Sholat Subuh, Tilawah, Kultum
06.30- 07.00 : Riyadhoh
07.00- 08.30 : Persiapan pribadi dan Sholat Dhuha
08.30- 09.00 : Pengkondisian forum
09.00- 12.00 : Konser Amal Peduli Palestina
12.00- 13.30 : SHOMAI
13.30- 15.30 : Refleksi Perjalanan Dakwah Kampus Sumatera Utara
“Napak Tilas Perjalanan Dakwah Kampus Sumatera Utara”
15.30- 16.15 : ISHO
16.15- 17.30 : Closing Ceremony

_Simposium Berkah_

Jumat, 22 Juli 2011


                                                           HAN : Bukan Sekedar Ceremonial
 
Setiap orang pasti pernah merasakan jadi anak-anak, meskipun indahnya masa anak-anak setiap orang berbeda-beda. Anak bagai tumbuhan baru yang harus dirawat dan dijaga agar pertumbuhannya sempurna. Keistimewaan hidup menjadi anak-anak diabadikan dalam hari penting yang diperingati setiap tahunnya, yaitu Hari Anak Nasional.

Hari Anak Nasional (HAN) diadakan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 44/1984 tentang Hari Anak Nasional, telah ditetapkan tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Peringatan HAN diselenggarakan setiap tahun sejak 1986 sampai sekarang. Peringatan HAN pada hakekatnya merupakan momentum yang penting untuk menggugah kepedulian maupun partisipasi seluruh Rakyat Indonesia dalam menghormati dan menjamin hak-hak anak tanpa diskriminasi, memberikan yang terbaik bagi anak, menjamin semaksimal mungkin kelangsungan hidup dan perkembangan anak serta menghargai pendapat anak. Hari Anak Nasional diperingati mulai di tingkat Pusat, Daerah dan Perwakilan RI di Luar Negeri. Pelaksanaan Hari Anak Nasional dikoordinasikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) yang setiap tahunnya akan menunjuk 1 Departemen/Kementerian teknis secara bergantian sebagai Penyelenggara Hari Anak Nasional.

 Namun sayang, acara-acara yang ada tiap tahunnya terlihat hanya sebatas ceremonial belaka, perlombaan menggambar, menulis puisi, menyanyi atau jenis perlomabaan lain untuk anak-anak, tanpa ada imbas yang jelas setelah perigatan HAN, lebih parah lagi terkadang HAN dijadikan ajang janji buat para “pengumbar janji”, padahal kondisi anak Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Berdasarkan data dari Pusat Pendidikan dan Informasi Hak Anak (KKSP) sepanjang tahun 2011 ini terdapat 15 kasus diskriminasi anak di bidang pendidikan. Di saat Indonesia, pemerintah Sumatera Utara, melakukan peringatan puncak hari anak nasional, dengan mengundang begitu banyak anak-anak dari sekolah dan mengedepankan cerdas sebagai salah satu sub-tema Hari Anak Nasional namun pada belahan lain di bumi Sumatera Utara masih terjadi diskriminasi pada anak-anak di dunia pendidikan.

 Direktur Eksekutif Yayasan KKSP, Muhammad Jailani memaparkan sebuah contoh kasus tentang hal ini. Ketika seorang anak ingin mendaftar di satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Padangsidimpuan dengan alasan anak tersebut penderita cacat pada bagian kaki. Pihak sekolah menyatakan penolakan tersebut berdasarkan pada SK Walikota Padangsidimpuan. Tentu ini pelanggaran pada hak anak dalam pendidikan. Sejatinya UUD 1945 dan Konvensi Hak Anak, dan juga UU Sistem Pendidikan Nasional menjamin tak ada diskriminasi dalam pendidikan. Belum lagi kasus kekerasan terhadapa anak. Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat sebanyak 1.826 kasus kekerasan terhadap anak terjadi di berbagai daerah sejak Januari hingga Mei 2010, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Kasus penjualan anak dibawah umur, kasus-kasus eksploitasi anak dan berbagai macam kasus lain seputar anak.

Bukan harapan semu dan tak bisa dipungkiri lagi bahwa ditangan anak-anaklah masa depan bangsa ini. Bagimana bangsa ini bisa maju ditangan para generasi yang terlahir dan hidup dalam era kemutakhiran dan kecanggihan teknologi yang tak terbendung. Anak-anak Indonesia bukan hanya terkepung oleh derasnya arus teknologi, tapi juga dihadapkan dengan kemunduran nilai-nilai akhlak. Isu korupsi yang membudaya, hutang negara yang semakin besar jumlahnya. Ini menjadi beban anak-anak yang kelak menjadi penerus masa depan bangsa bahkan sebelum ia lahir kedunia. Meneyedihkan.
HAN bukan hanya milik anak-anak orang kaya yang mampu membayar guru privat, guru ngaji atau segala bentuk guru. HAN juga milik anak-anak Indonesia yang hidup dijalanan, jika mereka belum merasakan indahnya hidup menjadi anak-anak seperti kebanyakan anak-anak lain, pantaskah HAN dikatakan berhasil? Sebuah pertanyaan besar buat negeri ini. Islam mengajarkan bahwa anak adalah anugrah, titipan illahi yang harus disyukuri, mungkin ini yang diadopsi oleh negeri ini, hingga keluarlah UU bahwa “ anak jalanan dan fakir miskin dipelihara oleh negara”. Tapi nyatanya?

Ini menjadi PR kita bersama, tak hanya pemerintah. Mahasiswa juga mampu berbuat sesuatu, tak hanya sekedar menuntut pemerintah dan teriak-teriak dijalan. Mulai saja dengan orang terdekat.. Tugas besar buat para orang tua atau yang akan menjadi orang tua. Setiap orang tua akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang diajarkan untuk anaknya, mendidik anak bukan hanya dengan kekerasan tapi mengajari mereka dengan ilmu dan amal. Dengan didikan sejak dini semoga masa depan anak-anak Indonesia lebih membawa perubahan kepada bangsa Indonesia.

Selamat Hari Anak Nasional, 23 Juli 2011. Semoga anak-anak Indonesia tak ada lagi yang tak sekolah, tak ada lagi yang tak kelaparan, tak ada lagi yang melepas masa anak-anaknya begitu saja. Semoga ini bukan harapan semu... Ya Robb, lindungi kami semua, anak-anak Indonesia, juga anak-anak di negeri lainnya.



 

Jumat, 15 Juli 2011

Lembaga Dakwah Kampus se-Indonesia Mendukung Freedom Flotilla II

BISMILLAHIROHMAANIRROHIIM

            Berkaitan dengan misi kemanusiaan “Freedom Flotilla II” yang kini tengah berjuang untuk berlayar ke Jalur Gaza guna menghentikan blokade zionis yahudi atas Jalur Gaza. Namun saat ini kapal-kapal yang tergabung dalam misi mulia tersebut ditahan di pelabuhan Yunani oleh otoritas pemerintahan Yunani.
     Maka kami lembaga dakwah kampus se-Indonesia yang tergabung dalam Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) menyatakan sikap sebagai berikut :
1. Mendukung penuh misi kemanusiaan armada Freedom Flotilla II untuk mengakhiri blokade zionis Yahudi atas jalur Gaza.
2. Mengecam tindakan Pemerintah Yunani yang menahan kapal-kapal yang tergabung dalam Freedom Flotilla II di pelabuhannya.
3. Menuntut pemerintah Yunani untuk menghentikan kebijakannya menghalangi Freedom Flotilla II dan membebaskan kapten kapal “The Audacity of  Hope” yangditangkap.
4. Menyerukan kepada masyarakat Indonesia dan dunia untuk senantiasa mendukung upaya-upaya terhadap pembebasan Palestina.

Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan.”(QS. Al-Anfal [8] : 72)

Yoyakarta, 6 Juli 2011
BK Isu Dunia Islam
Pusat Komunikasi Nasional
FSLDK Indonesia

Aksi mendukung Freedom Flotilla II
9-10 Juli 2011 serentak se-Indonesia.
CP :
Arif Nurhayanto (085235396568)

Sabtu, 09 Juli 2011

Zona Mahasiswa

RENOVASI MAHASISWA MENGHADAPI PERSAINGAN BANGSA


            Pernah suatu ketika saya mendapat e-mail dari salah seorang teman di Makasar. Beliau menceritakan tentang kekecewaannya pada Perguruan Tinggi Islam yang baru dimasukinya. Ironis sekali, ketika kenyataan yang dihadapinya tidak sesuai dengan yang diharapkannya.  Baru satu bulan menghirup nafas sebagai mahasiswa beliau telah dihadapkan pada peristiwa yang sangat memalukan. Peristiwa ini terjadi di Makasar, pelaku dari peristiwa ini adalah seorang mahasiswa dari Perguruan Tinggi yang sama dengan beliau, pada saat itu mengenakan jas almamater hijau sambil berorasi  dalam suasana demonstrasi. Mahasiswa yang berorasi tadi menguatkan dan memberi semangat pada mahasiswa lain yang memukuli salah seorang profesor yang saat itu dalam kondisi sakit hendak diantar ke rumah sakit, hanya kerena anak profesor hendak memindahkan pagar penghalang jalan utama karena  buru-buru mengantar sang profesor ke rumah sakit. Sungguh memalukan!
            Pasca reformasi brutalisme di kampus kian menjadi-jadi bagai bola api menggelinding tak karuan dan meletus kemana-mana. Tawuran antar mahasiswa sekampus dan antar Perguruan Tinggi, dosen pukul mahasiswa atau sebaliknya, pembakaran dan pengrusakan kampus sendiri menjadi konsumsi yang “mau” atau “tidak” harus dinikmati. Belum lagi dengan kegiatan OSPEK yang sangat tidak manusiawi. Padahal, kegiatan OSPEK yang dilakukan juga nggak ada sangkut pautnya dengan mata kuliah yang akan digeluti. Menjadi lebih aneh lagi karena fenomena  ini cepat menyebar pada hampir setiap Perguruan Tinggi di Indonesia bagai Volvariella Volvaceae yang berkembang di musim hujan. Beginikah sebenarnya mahasiswa?
 

            Kalau dulu orang berkelahi, sentilannya seperti ini, “Kamu ini (maaf) kayak supir angkot saja”. Nah, kalau sekarang orang berkelahi sentilannya “Kamu ini kayak mahasiswa saja” . Tidak heran jika pencitraan buruk kampus telah membunuh animo para orangtua untuk menyekolahkan anaknya ke Perguruan Tinggi, terlepas dari ketidakmampuan finansial. Status mahasiswa tidak lagi menjadi sesuatu yang luar biasa di masyarakat dibandingkan masa Orla maupun Orba. Kalau mahasiswa tidak lagi bisa dijadikan panutan, teladan, lalu mau dibawa kemana nasib bangsa ini?

            Menjadi pertanyaan besar dan harus diselesaikan dari fenomena yang terjadi adalah : Apa fungsi dan peran mahasiswa? Bagaimana melakukan renovasi dunia mahasiswa menuju persaingan bangsa ?


Fungsi dan Peran Mahasiswa
            Menyedihkan “memang” melihat dunia mahasiswa saat ini, tapi betapa tak gampang untuk menggambarkan profil mahasiswa yang ideal. “Sadar” atau “tidak” sebenarnya kata “mahasiswa” memiliki makna yang mendalam sesuai dengan eksistensinya. Menurut KBBI mahasiswa adalah orang yang belajar diperguruan tinggi. Definisi yang lebih luas lagi mengatakan bahwa mahasiswa adalah sekumpulan manusia intelektual yang akan bermetamorfosa menjadi penerus tombak estafet pembangunan di setiap negara, dengan intelegensinya diharapkan bisa mendobrak pilar-pilar kehampaan suatu negara dalam mencari kesempurnaan kehidupan berbangsa dan bernegara, serta secara moril akan dituntut tanggung jawab akademisnya dalam menghasilkan “buah karya” yang berguna bagi kehidupan lingkungan. (www.google.com).
            Posisi mahasiswa sebagai kelompok masyarakat yang mengenyam jenjang pendidikan tertinggi memiliki tiga peran strategis dalam bangsa ini. Pertama sebagai benteng moral, hal ini kedengarannya sepele dan sederhana, bahkan orang yang menggaungkannya disebut sok alim atau sok moralitas. Jika mahasiswa memahami dan mengaplikasikan peran ini, maka akan memberikan perubahan signifikan bagi moral masyarakat, karena mahasiswa dipandang sebagai entitas intelektual yang memiliki status diatas stratifikasi sosial. Kedua sebagai agent of change, peran strategis ini menjadikan mahasiswa sebagai titik tolak perubahan kondisi masyarakat kearah yang lebih baik, lebih bermartabat menuju bangsa Indonesia yang berkualitas.  Ketiga, sebagai iron stock (cadangan keras), artinya mahasiswa sebagai calon pengganti pemimpin hari ini di masa yang akan datang . Imaji futuristik tentang kebudayaan ideal sesungguhnya akan segera terwujud, cepat atau lambat. Asalkan dari sekarang berbenah dan bersiap menggantikan pejabat korup atau kepala daerah dan anggota dewan yang tak punya ijazah.
Lain di bibir lain pula di hati. Agaknya perumpamaan ini yang cocok ditujukan untuk mahasiswa zaman sekarang, peran mahasiswa sebagai pelaku dalam gerakan pembaharuan  tak sesuai dengan kenyataan yang ada.  Tri Dharma Perguruan Tinggi  (pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat) yang seharusnya dilakukan mahasiswa kini hanya menjadi kenangan belaka. Arus perubahan zaman yang deras telah menghanyutkan mahasiswa bangsa ini pada buaian ambisi pribadi, lebih parah lagi kondisi ini di dukung oleh perguruan tinggi dengan gembira ria, misalnya janji manis Perguruan Tinggi yang dapat memperkerjakan mahasiswanya di perusahaan multi nasional setelah lulus, bahkan ada yang menawarkan lebih. Tidak salah jika “Perguruan Tinggi” diganti dengan “Perguruan Cari Duit”. Mahasiswa di cetak untuk menjadi agen pekerja siap pakai. Kalau sudah begini, “apa bedanya pelajar dengan pekerja?”.

Renovasi Dunia Mahasiswa
            Sudah saatnya merubah dunia mahasiswa yang bebas tanpa batas, mengingat peran, fungsi serta kedudukannya yang begitu tinggi di masyarakat. Pembenahan kehidupan bangsa dimulai dari pembenahan Sumber Daya Manusia (SDM). Percaya atau “tidak”, daya saing bangsa sangat ditentukan oleh kualitas SDMnya.
            Pada tahun 2008 tingkat daya saing bangsa Indonesia berada di peringkat 55, padahal pada tahun 2007, Indonesia menempati posisi 54 dari 132 negara (World Economic Forum). Berbagai ketertinggalan di hampir setiap sendi kehidupan bangsa ini menjadi faktor penurunan daya saing ini. Mulai dari tingkat kemiskinan yang tak kuncung turun, tingkat investasi yang belum optimal, praktik politik yang tidak sehat, kasus cicak vs buaya, susno vs polri yang menggambarkan praktik dunia hukum yang belum tertata rapi, belum lagi kondisi kesehatan masyarakat yang memprihatinkan. Menjadi tugas berat bangsa ini untuk mengejar ketertinggalan ini dan mahasiswa sebagai bahan bakar yang paling memungkinkan digunakan oleh bangsa ini untuk mengejar ketertinggalan itu. Indonesia harus mengejar ketertinggalan itu dengan cepat, bayangkan saja negara lain bergerak dengan motor bermesin 300 cc, plus peralatan yang serba baru, sedangkan Indonesia menggunakan motor bermesin 90 cc dengan rusak di sanan-sini.
            Berbicara tentang pembangunan daya saing bangsa, maka berbicara tentang kualitas SDM. SDM yang berkualitas diperoleh dari proses pengolahan yang baik. Untuk merenovasi kehidupan mahasiswa Indonesia saat ini menuju persaingan bangsa yang semakin menggila maka perlu di lakukan strategi khusus. Pertama merenovasi kehidupan kampus, ada mahasiswa pasti ada kampus. Mengubah paradigma Perguruan Tinggi dari mengajar jadi mendidik. Sudah seharusnya membekali keluaran perguruan tinggi dengan etika moral yang cukup, bukan dibiarkan keluar sebagai ilmuan atau teknokrat belaka. Mahasiswa hanya di beri materi kuliah, akhirnya keluar sebagai orang yang materialistis, bukannya jadi mahasiswa “plus” malah jadi mahasiswa”fulus”. Mahasiswa diberi ilmu pengetahuan bebas nilai dan membiarkan mahasiswa mengemas ilmu yang ada dengan moralnya sendiri. Akhirnya, menghalalkan segala cara demi meraih cita-citanya, gusur ini gusur itu, sikut sana sikut sini, bakar sana bakar sini, mahasiswa demdam dengan dosen bahkan sebaliknya. Dengan otonomisasi yag diberikan pemerintah kepada Perguruan Tinggi, seharusnya Perguruan Tinggi membuat regulasi internal yang membuat Perguruan Tinggi lebih bermartabat. Pejabat di Perguruan Tinggi harus sadar bahwa kampus adalah laboratorium sosial yang melahirkan para pengubah nasib bangsa ini yang jujur, bermoral, adil dan cerdas.
            Kedua merenovasi kurikulum, pembentukan kualitas SDM sangat ditentukan oleh sistem pendidikan. Kualitas SDM dapat diukur dari aspek-aspek kecakapan hidup. Untuk itu pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup sangat penting untuk diimplementasikan guna membangun daya saing bangsa. Perlu adanya pengembangan pendidikan kecakapan hidup (life skill) pada setiap mata kuliah yang diberikan, meskipun tidak tertuang secara eksplisit dalam kurikulum (hanya sebagai substansi non instruksional) namun renovasi ini perlu menuju pendidikan yang unggul dan siap maju di arena persaingan. Dengan adanya pendidikan kecakapan hidup seseorang mau dan berani menghadapi problema hidup secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehinga akhirnya mampu mengatasinya. Kecakapan hidup akan menumbuhkan sikap kepekaan sosial. Dengan perannya sebagai bagian dari masyarakat “mau” atau “tidak” mahasiswa dihadapkan pada realita. Realita tentang kehidupan bangsanya yang menjadi bagian hidupnya juga. Realita inilah yang akan menjadi dasar tindakan selanjutnya.
            Ketiga merenovasi konsep berfikir. Penanaman idealisme berfikir kemahasiswaan, tanggung jawab sebagai mahasiswa dan generasi penerus bangsa, pemahaman akan kompleksitas permasalahan bangsa, pembangunan karakter mahasiswa, serta pembekalan kemampuan manajerial dan kepemimpinan. Pembangunan konsep dan koneksi mahasiswa dalam dunia kemahasiswaan masa kini yang semakin bergerak ke arah pola hidup hedonis dan konsumtif, bukanlah sebuah tugas yang mudah. Mahasiswa adalah pembuat arus, bukan pengikut arus. Mahasiswa, sebagai kaum terpelajar, diharapkan membuat arus baru yang positif, bersama masyarakat yang dididiknya menjadi masyarakat bermartabat dan sama tinggi dengan masyarakat dunia lainnya. Adalah tidak tepat bila kesempatan untuk memperoleh pendidikan – kesempatan yang tidak semua orang memilikinya – hanya membawa mahsiswa dalam kestagnanan. Tapi tentu saja di atas segalanya, adalah sebuah kebanggaan bagi lembaga mahasiswa hari ini untuk menjadi tungku bagi matangnya buah pemikiran mahasiswa itu agar bangsa ini siap menghadapi persaingan
            Keempat merenovasi peran social kontrol. Peran mahasiswa sebagai social kontrol perlu di tinjau ulang, terkadang niat suci mahasiswa untuk mengawasi kebijakan pemerintah ditunggangi oleh oknum-oknum tertentu yang terkadang merupakan barisan sakit hati dari pemerintahan yang digugat. Memang pada dasarnya mahasiswa adalah makhluk dewasa yang bisa membedakan “benar” atau”salah’’ secara normative, namun terkadang sikap dewasa ini tercemar oleh “mikroba” yang begitu cepat bergerak di alam pikiran mahasiswa sehingga social kontrol ini hanya dijadikan tameng untuk kepentingan pribadi.
            Kelima merenovasi pengabdian mahasiswa. Menjadi mahasiswa yang cerdas itu perlu, tapi itu saja tidak cukup, masyarakat tidak butuh mahasiswa yang cerdas dan menjuarai banyak olimpiade, bila akhirnya hanya peduli pada diri sendiri. Akan tetapi masyarakat kita lebih butuh kaum terpelajar yang peduli akan sesamanya dan berdasarkan ilmu yang dimilikinya, mampu berbuat sesuatu untuk mengeluarkan bangsanya dari jerat ketidaktahuan, kemiskinan, dan segala macam bentuk penjajahan.
            Indonesia masa depan akan dihadapkan pada persaingan bangsa yang lebih kuat. Bangsa ini butuh kendaraan yang bisa menuju jalan berkelok, terjal dan menanjak agar sampai pada efficiency driven, tidak selamanya berada pada posisi key driven. Untuk itulah dinutuhkan perubahan sosial. Perbuahan sosial merupakan akumulasi dari perubahan individu-individu. Sehingga perubahan sosial tidak akan tercapai selama belum adanya perubahan-perubahan dalam diri individu. Memang adakalanya perubahan dapat dicapai hanya dengan beberapa individu yang berubah saja, namun perubahan tersebut tidak akan bertahan lama karena nantinya individu-individu yang belum berubah akan mengakumulasikan kekuatan untuk menentang perubahan tersebut. Perubahan juga tidak akan berlangsung dengan baik apabila digerakkan oleh orang-orang yang dirinya sendiripun belum berubah. Perbaikan yang ingin dicapai tidak berhasil dengan baik apabila yang ingin melakukan perbaikan tersebut tidak memperbaiki dirinya terlebih dahulu, ibarat menyuruh seseorang tetapi dia sendiri tidak melakukannya. Perubahan yang signifikan akan membawa kesiapan untuk menuju persaingan bangsa.